Minggu, 11 Oktober 2020

Surat Hari Ini

Tadi malam niatku ke luar kosan hanya untuk membeli rokok, karena setelah makan dan tidak merokok rasanya kurang pas. Aku bahkan berjanji pada teman lelakiku akan menelepon kembali sepulang dari warung. 

Di perjalanan dari warung menuju kost, otak ini berkecamuk. Akhirnya laju motor kuarahkan menuju basecamp kawan-kawan.

Di jalan, aku menimbang segala Sesuatu. Aku kembali menanyakan kepada diriku sendiri mengapa aku menyemplungkan diri begitu serius ke dalam gerakan kali ini. 

Mungkin ini adalah klimaks dari setiap onani pikir yang harus aku tanggung jawabi. Aku menyadari begitu besar beban menjadi makhluk intelektual lalu ingin menjadi kangkung saja. 

Alangkah beban saat mengetahui persis antara benar dan salah. Pengetahuan lantas menjadi kehinaan atas diri sendiri ketika tahu, lalu mengambil sikap diam berpangku tangan. Sementara dua tangan dan kaki mampu berupaya. 

Di detik menulis ini, aku merasa amat lelah. Itu juga yang kulihat dari pejuang demokrasi yang membersamai gerakan ini. Kami kurang cukup tidur, miskin dan mengetepikan banyak prioritas pada hari-hari biasa.  

Jiwa dan raga kami begitu lelah. Tapi kuharap itu tidak menyurutkan gerak progresif. Walau kini sedang tertatih.  

Bagiku pribadi, nyaris tidak ada keuntungan yang kudapat pasca demonstrasi gelombang pertama kemarin. Karena aku bukan politis yang mengambil peluang dalam momentum ini. Usah akan berkecimpung, berurusan dengan elit politik saja aku malas. 

Satu keberuntungan yang membuatku menjadi orang paling mujur ialah, bertemu orang-orang yang tidak menari di atas darah saudara seperjuangan. Mereka bergerak progresif tanpa tendensi. 

Tapi sekarang kami dalam keadaan lelah. Untuk sekadar bernapas saja sungguh berat. Kami bergerak berjuang menggunakan pakaian lusuh berdebu yang lekat entah sudah berapa hari. Pun, setelah aksi ini selesai pakaian kami akan tetap lusuh. Bertambah dengan bermacam tambalan sisa perang. 

Aku tidak berhenti menanyai diri sendiri. Mengapa mesti menyemplungkan diri ke dalam sini. Aku semester 13, harusnya aku fokus mengerjakan tugas akhir sambil menyeruput kopi, sembari menggilas camilan di tengah malam. 

Jika dipikir-pikir, aku ini sungguh tidak mendapati keuntungan apa pun setelah aksi hari esok, selain pengalaman melelahkan disemprot Water Cannon atau gas air mata. Hal yang tidak membahagiakan untuk layak disebut keberuntungan. 

Lalu aku membayangkan, adikku, atau generasi orang yang aku kasihi. Mereka bangun di Senin seperti Senin biasanya dan pergi bekerja. Pulang dalam keadaan energi habis, beras menipis dan satu-satunya kekayaan yang patut disyukuri adalah, masih ada air untuk membasuh letih. 

Namun negara ini begitu tamak. Untuk urusan air juga diintervensi. Lahan-lahan adat dibabat demi percepatan ekonomi. Entah ekonomi siapa sebab bukti nyata potret industri yang telah berdiri, tidak mampu meng-cover masyarakat yang lahannya didirikan lokasi produksi. Mereka masih saja susah dan berusaha tabah agar hati tidak begitu terluka.  

Oh, Iya, perihal air. Bagaimana saat Omnibus Law bekerja, korporasi akan semakin mudah merebut kepemilikan lahan dan menjadikannya lokasi industri, tanpa menggubris pertimbangan dampak lingkungan. Jangan katakan ini ilusi. Sebab di sudut desa di provinsi ini telah diberikan hak guna usaha kepada perusahaan tambang batu bara yang daerah operasi di hulu sungai. 
 
Aku tidak ingin menggiring opini, silahkan pikir sendiri dampak dari perselingkuhan antara pemerintah dan korporasi. Pemerintah hidup layak dari uang rakyat yang didapat dengan cara bertungkus lumus bermandikan keringat. Harusnya menggunakan hati nurani dan memihak rakyat, malah  bikin kebijakan dengan tedeng aling-aling rakyat. Ternyata kebijakan itu berat pada korporasi. Sungguh alasan demi restu publik yang dibuat-buat. 

Aku lelah, aku ingin hari-hari normalku kembali. Aku ingin kembali menyukai seseorang tanpa beban akan sesuatu yang belum usai. Kali ini, mari lebih serius hingga tujuan bukan lagi utopia.

Minggu, 04 Oktober 2020

Jalan Sepi

Hanya di jalan ini 
Reformasi dikorupsi 
Upeti mengenyangkan priyayi 
Tetesannya tak melepas dahaga si papa

Jika Tuan melewati jalan sepi ini 
Akan Tuan temukan akar busuk buahnya segar 
Sebab konsep alam telah dijungkirbalikkan 

Dimensi ini kejam
Tuan tak akan bertahan jika tidak jalang
Tak bisa kenyang 
Maka itu mesti melacur  

Hanya di sini Tuan bisa amati
Eksistensi materi membunuh nurani 
Mencoreng niat baik Tuhan menciptakan manusia di wajah bumi 

Oktober, 2020

Kamis, 01 Oktober 2020

Memoar Memar


Aku hari ini berpuisi di tempat sunyi
Agar tidak ditembaki tim mawar atau Banser atau pemuda pancasila 

Puisiku mengalir dalam sunyi 
Pada malam² gelap pembantaian atas nama harmoni 

Di belantara kata aku tersesat 
Sebab kini benar atau salah hanya perkara suara terbanyak 
Perkara siapa yg sepakat atau tidak sepakat 
Massa terbanyak 
Doktrin 
Buku sejarah 
Televisi 
Dan apa yang ingin diyakini 

Ah mampuslah aku 
Tak punya kawan 
Tak punya ruang 
Suara kadang samar terdengar 
Tenggelam!

Aku rasa puisiku hanya boleh disuarakan lantang²di dalam hutan 
Tak ada media massa
Tak ada suara 
Tak ada eksistensi peradaban manusia 
 
Hanya ada aku 
Kau
Kecipak air
Cericit burung
Desau angin 

Di hari ini puluhan tahun silam, kata²ku ini telah diprediksi 
Disusun rapi 
Teliti
Eksekusi 
Mati!

Pekanbaru, September 2020

Sabtu, 26 September 2020

Troya Dan Alengka

Benteng rubuh 
Troya menolak patuh
Bekerja paksa dengan semangat merdeka 
Dari kita
Untuk kita

Aroma embun di masa perang ini 
Lebih manis karena dicicipi di neraka

Di Alengka
Rama membara
Alengka berkobar 

Di troya api telah padam 
Kuda masuk ke halaman 

Odysseus merana 
Sepuluh tahun mendekam di Troya
Rindu, dekap dan hangat Penelope menikam garba hingga kepala 

Siksa dewa 
Anugerah bagi Troya

Sejarah milik para pemenang
Namun jangan alpa
Kemenangan milik mereka yang membaca

Di Alengka
Dasamuka merdeka hatinya harum oleh bunga Dewi Sinta

September, 2020


Halo, September. 
Halo diriku sendiri, terima kasih sudah mencari pertolongan. Aku bangga dengan diriku telah melalui semua serangan, sebagai gelandang bertahan aku mapan, walau kadang goyang akan gocekan. 
Surya masih bersinar, saatnya menyerang dan hasilkan kemenangan. 
1-1 skor sementara.





Minggu, 14 Juni 2020

Aku Ingin Hidup dan Menua di Desa

Alangkah mengerikan, saat aku menua di antara deru suara mesin mobil, knalpot motor yang bising. Saat hendak ke pasar masih harus menghirup udara karbon monoksida, sulfur dioksida dan zat beracun lainnya. 

Saya bukan seseorang yang menerapkan pola hidup yang sehat sehat amat. Jika saya sedang stress berat, saya masif mengonsumsi nikotin, tar, benzopiren, fenol dan konon ribuan zat berbahaya yang terkandung dalam tembakau. 

Aku benar-benar tidak cocok hidup di kota. Perkotaan membuatku stress dan ingin terus berlari dari kebisingan dan segala tuntutan. Begitu menyesakkan.

Tentu saja desa dan kota memiliki plus dan minusnya sendiri. Tergantung apa yang kau butuhkan. Jika kamu membutuhkan akses yang mudah di segala lini, sudah barang tentu kota adalah jawaban. Namun jika kamu ingin dipeluk kehangatan, bisa jadi desa adalah jawaban. 

***
Ingatan awal masa kecilku begitu kesepian, aku diasuh oleh Oma. Oma ini adalah ibu dari ayahku. Oma tinggal di Pekayon, Bekasi Selatan.

Rutinitas masa kecilku saat di rumah Oma terbilang monoton, Pagi pergi sekolah diantar mobil jemputan, siang pulang lalu tidur siang, malam menonton televisi, makan malam lalu belajar dan yang paling aku benci. Meminum cairan ekstrak minyak ikan enggak enak bermerk dagang Scott's Emulsion. Rasanya benar-benar bikin trauma.

Oleh karenanya aku sering banget bikin eksperimen karena kebosananku. Masukim kaki ke jari-jari sepeda, kepala terjebak di pagar saat Maghrib dan semua percobaan iseng itu aku lakukan sendirian. 

Sungguh beruntung mereka yang mengalami kekonyolan di masa kecil bersama teman mereka. 

Sebenarnya aku punya sepupu yang mengunjungi Oma setiap akhir pekan. Namun, tetap saja rasanya kurang, layaknya anak kecil ia butuh teman sebaya lebih sering di sampingnya. Membagikan imajinasi yang enggak mungkin orang tua bisa pahami. Sementara aku? Boro-boro main sama teman, pulang dari TK Oma langsung merantai pagar plus dengan gembok. 

Akhirnya aku menemukan oase saat aku pulang ke Riau. Di Riau, aku berkesempatan lebih banyak kabur walau mama enggak mengizinkan aku main. Aku akhirnya punya kenangan masa kecil penuh dengan debu, perang lumpur saat musim hujan, mandi ke sungai. Rasanya hangat hingga aku menulis ini. 

***

Kalau dipikir-pikir, tinggal di desa memiliki privilese yang enggak ada di kota. 

Di desa, kalian bisa saling bertukar lauk tanpa canggung dan rasa curiga. Kalian sakit? Oh jangan khawatir tidak makan. Walau bukan penganut komunisme, rasa welas asih akan menghantarkan berbagai jenis hasil bumi ke meja di dapur kalian. 

Aku jadi ingat manakala aku KKN di Desa Kuala Keritang, kami siang itu kebingungan karena kehabisan bahan masakan untuk masak sore. Mungkin keluhan kami terdengar hingga rumah warga yang memang jarak rumahnya tidak sampai satu meter. Tak lama, kami diantar sayur dan pisang satu tandan. Bukan satu sisir tapi satu tandan!

Privilese lainnya ialah kamu enggak perlu sewa jasa katering kalau kamu bikin acara selamatan atau semacamnya, warga akan datang membantu segala prosesi mulai dari dekorasi hingga urusan dapur. Menariknya, tradisi masyarakat jawa saat menggelar hajatan, tetangga yang datang biasanya membawa telur, beras, minyak sayur, gula dan bahan sembako lainnya. Kami menyebutnya, rewang.

Sifat gotong royong ini memang tidak akan kamu temui di setiap desa. Terlebih modernisasi mulai merayap di tubuh-tubuh desa. 

Biar begitu, aku tetap ingin hidup dan menua di desa. Mengamati tanaman di kebun bertumbuh. Didekap kehangatan desa hingga usai usia.


Sabtu, 13 Juni 2020

Haiku Pemalas


ganjil pikiran 
adil ditikam gada 
Novel Baswedan 

ganjil pikiran 
mulai beda haluan 
nahkoda tumbang

Indonesia
tanah surga katanya
kata siapa

hitam kulit
keriting rambut beta
dibunuh rezim 


Jumat, 12 Juni 2020

Sabda Kematian

                       sumber: Pinterest

Sebuah kematian di rumahku. sebuah mayat terbujur kaku di ruang dimana kau biasa bermain, membaca buku, bercengkrama, dan tertawa. Sekonyong-konyong warna biru, jingga, merah dan ungu berubah menjadi abu-abu. Kursi jati berwarna cokelat tua yang dibeli ayah dari pengrajin asal Jepara berubah menjadi abu-abu. Perkakas lainnya pun begitu. 

Kain jarik yang biasanya menjadi pengganti tali untuk permainan tarik tambang digunakan sebagai penutup mayit. Aku khawatir kain itu tiba-tiba bergerak dan mayatnya menjadi zombie.

Ah, sialan! Bagaimana aku bisa lupa, ini adalah rumahku ke empat adikku beserta kedua orangtuaku. Perlahan ketakutan merayapiku, ngilu menjalar dari tengkuk hingga ke setiap persendian tubuh. Aku melihat sekeliling, memeriksa siapakah yang tidak ada dalam anggota keluargaku yang artinya ia adalah si mayit di hadapanku ini. Aku mulai mencari ibu, pemilik badan ini tidak mungkin ibuku. Lihatlah ia tengah menangis meratapi ketiadaan eksistensi jiwa seseorang. Aku sedikit lega, walaupun tetap aneh ketika sedikit merasa lapang saat yang mati adalah anggota keluargamu.

Beberapa pelayat tampak bersimpati kepadaku. Ini aneh, daripada sedih sudah kukatakan tadi bahwa aku lebih merasakan takut sebab belum mengetahui siapa pemilik tubuh tanpa nyawa di hadapanku ini. 

Di ruangan ini tidak kulihat adik-adikku. Dengan langkah gemetar aku mencari ke setiap ruangan di rumah ini. Aku berjalan melewati potret berisikan tujuh orang. Seingatku masing-masing mengenakan batik dengan warna senada. Batik bali warna merah marun seandainya segala sesuatu tidak berwarna abu-abu seperti sekarang ini. Di potret itu ada aku, ibuku, ayahku, dan keempat adikku. 

Kini aku tengah berada di ruang makan, di atas meja makan kulihat banyak wadah berisikan beras yang kukira itu berasal dari para pelayat. Belum kutemukan satupun adik-adikku. 

Oh ya, belum kuberitakan padamu perihal adik-adikku. Aku memiliki empat orang adik dengan aku sebagai anak sulung rumah ini. Adik yang lahir setelahku adalah sepasang kembar lelaki dan perempuan, bernama Lintang dan Bumi Lintang si kakak perempuan dan Bumi lahir tidak lama setelah Lintang lahir.  Mereka berusia dua puluh tahun bulan Desember nanti. Berselang tiga tahun dari kelahiran mereka lahir seorang anak lelaki yang diberi nama Adimas Lintang Bumi. Dan si bungsu kesukaanku, si bungsu yang keras kepala namun sesungguhnya memiliki tabiat manja, Gadis. Begitu ibuku menamainya. 

Kepalaku kian pusing, badan kurasakan semakin dingin. Ketakutan akan kehilangan menghujam tubuh dan kejiwaan. Segera kumantapkan kaki menuju kamar ibu, hasilnya nihil. Hal yang sama kutemukan di kamar Lintang dan kamar Bumi, kosong. Aku melangkah ke kamar Adimas Bude dari pihak ibuku tengah menenangkan kedua adik kembarku. Adimas kulihat sedang bertelepon entah dengan siapa, ia sekilas memandangku lalu kembali fokus pada urusan telponnya, kudengar itu perkara kayu nisan. Aku kian pening namun kupaksakan menuju lantai dua kamar adik bungsu yang bersebelahan dengan kamarku. 

Anak tangga kutapaki dengan kepayahan segera aku menuju kamar Gadis. Tuhan tolong, kendati pada pencarianku aku tak pernah menemukan-Mu tolong biarkan aku percaya kalau Kau ada. Jangan Gadis! Jangan Gadis! Aku membuka pintu kamar dan mendapati Gadis tertidur dengan mata basah, entah saja mungkin ia pingsan aku kurang paham juga.

Aku lega, adikku bukan pemilik jasad di ruang keluarga itu. Lalu siapa? Apa ayahku? Kuharap, Ya. Aku amat membenci pria dengan pangkat terakhir dua bintang emas tersebut. Lihatlah sekarang ia asyik beramah tamah dengan pejabat kepolisian korup lainnya. Idealnya sebagai kepala rumah tangga ia mengurusi segala keperluan nisan dan bukan menjadi tanggung jawab Adimas.  

Ayahku amat kubenci. Kebencianku sudah meresap hingga partikel darah di badanku. Dari luar ia perwira tinggi yang begitu wibawa dan dihormati. Di rumah, bagiku ia iblis egois yang culas dan licik.  Kau, Tahu? Aku yakin kelak Adimas akan dimarahi jika salah memesan kayu nisan. Dan ibuku akan ditampar saat tidak bisa berhenti meratap dan membikin malu dirinya. Entahlah, kadang ia murka untuk alasan remeh dan tidak masuk akal. Itu satu alasan mengapa aku membencinya. Alasan lain mengapa aku enggak sumgkem saat hari raya ialah tumpukan kebencian saat ia menampar dan mendorong ibu ke tembok. Jika sudah kalap ibu sering babak belur. Dan bila sudah begitu, aku akan kesetanan menghancurkan apa saja demi membuat ia menghentikan perbuatannya. Aku memaki, mengatakan menyesal terlahir sebagai anaknya dan kalimat yang aku sendiri tak percaya itu lahir dari mulutku.

Nanti dulu, jika pecundang itu ada, lantas siapa tubuh tanpa nyawa di ruang keluarga? 

Aku bergegas menuju ruang keluarga, di sana aku melihat diriku. Ya! Itu tubuh pucat milikku. Kulihat wajah familiar yang sering kutatap di depan cermin pagi hari wajah itu kini beku dengan sedikit senyuman. 

Aku lega, benar-benar lega ternyata tubuh itu milikku.

Rabu, 10 Juni 2020

Hal Ini Aku Alami Setelah Lama Tidak Menulis

                      Gambar istimewa

Kembali merangkai frasa demi frasa setelah sekian lama enggak menulis, ternyata benar-benar bencana. Aku enggak pernah menyangka membuat satu tulisan akan semenyulitkan ini.

Suatu hari, aku yang tengah bersafari di status demi status di aplikasi WhatsApp kemudian aku melihat sebuah informasi, tulisan temanku naik di media komunitas daring yang sering aku baca. 

Insecure dong, pasti insecure dong ya...

Kendati aku insecure membandingkan diriku yang enggak produktif ini, aku sangat bangga terhadap pencapaian temanku. Aku kemudian mengirim pesan kepada  teman perempuan di kampusku, tujuannya satu, minta diajari untuk menulis kembali. Agar kembali produktif menulis dan menghempaskan segala rasa rendah diri sialan ini. Ternyata dia mengalami kegelisahan yang sama. Alih-alih diajari kami akhirnya sepakat melakukan tantangan 30 hari menulis, dimulai sejak tanggal 6 Juni.

Hal tersebut yang menjadi awal dari bencana yang tidak bisa diselamatkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Aku memikirkan beberapa topik yang akan aku kembangkan seharian ini, tetap saja hasilnya tidak sesuai keinginan.

Menemukan ide-menyalin di gawai-mengembangkan ide-tulis-hapus-mencari referensi-tulis-hapus-tulis lagi-hapus lagi. Hais!1 embuh! Djancuk raine hasuw!1 

Bencana ini menciptakan situasi absurd lain. Aku berharap  inspirasi datang dari secangkir kopi. Rasanya,aku sudah termakan strategi marketing dalam bentuk iklan. Meski kopi yang kuminum ialah kopi bubuk yang bahkan tidak ada iklannya. Aku bahkan sengaja jongkok di kamar mandi meski enggak lagi pengen buang air. Lagi-lagi demi mendapatkan inspirasi.

Seharian ini aku juga membaca hampir dua puluh artikel di media yang berbeda. Aku berharap, ada sesuatu yang mungkin bisa aku jadikan tulisan yang enak dibaca. Sayangnya, tetap saja enggak ada kata terlintas.

Menyiasati kebuntuan, aku melakukan meditasi, membayangkan berada di pedalaman hutan Kampar Kiri Hulu yang asri. Berada di pinggiran sungai mendengarkan gemericik air mengenai batu, suara satwa hutan yang indah. Kemudian saat meditasi selesai, aku memutuskan menuangkan keresahanku dalam bentuk tulisan.

Lama enggak nulis bikin aku gagap memulainya kembali. Tapi bukan berarti aku enggak bisa. Setiap hari hingga challenge ini selesai, bakal jadi hari-hari penuh proses yang aku pikir bakal enggak mudah. Dibanding berkompetisi dengan partnerku, 30 hari ke depan bakal jadi waktu untukku berproses melampaui diri sendiri.

Senin, 08 Juni 2020

Nilam

nilam  tak ada waktu bermain-main dengan bunga
sejak subuh diajak ibu menjadi buruh tanam 

mejeng malam minggu perkara nanti
tak sempat
nilam keburu dilamar kemiskinan sejak sebelum menstruasi

sekolah angan-angan mewah
jadi bahan lamunan pun segan ia lakukan

ibu berpesan agar tetap perawan
supaya paling tidak berjodohkan kerani 

lacur
selaput daranya robek oleh juragan sarmadi

buat beli gula juga kopi
kata sarmadi 

sudah kubilang
ia dilamar kemiskinan bahkan sebelum menstruasi

Juni, 2020

Minggu, 07 Juni 2020

Puasa Medsos Demi Kesehatan Mental


Siapa saja setuju bahwa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) itu bikin depresi. Mulai dari enggak bisa nongkrong bareng teman, hingga pendapatan yang menyusut gila-gilaan. 

Media sosial kemudian jadi salah satu hiburan. Namun siapa nyana kalau media sosial yang harusnya jadi hiburan malah makin bikin depresi dan mental anxiety.

Pada kasusku, aku menyadari ada yang tidak baik pada jiwaku saat melihat konflik di mana-mana, kalimat bernada kebencian di media sosial.

Suatu hari, aku menangis sesenggukan karena merasa rendah diri. Pasalnya, melihat postingan pencapaian orang-orang terlalu sering saat diri sendiri belum menghasilkan sesuatu yang berarti. 

Rasanya menyedihkan melihat orang lain telah membuat pencapaian sementara dirimu hanya melihat beranda sosial media sambil rebahan.

Aku merasa bahkan lebih kerdil dari partikel debu kosmik. Aku juga bahkan minder pada ayam yang lagi nyari makan.

Tidak bisa tidak, segera aku menghapus aplikasi Instagram, Facebook, Twitter dkk. Ini keputusan yang berat kau tau? Awalnya sulit sekali, menemukan telepon pintar di pagi hari tanpa Instagram dkk yang enggak pernah absen diperiksa. 

Tapi ternyata dampaknya juga sebanding, seorang video produser bernama Emma Fierberg mengatakan lebih baik pasca melakukan puasa sosmed.

“Aku tidak lagi merasa pusing, aku tidak merasa lelah sepanjang waktu. Selama eksperimen berlangsung aku mulai merasa bahwa ada jam lebih dalam sehari untukku membaca, memasak, dan berolahraga," ujar Emma dalam video yang dirilis Tech Insider.

Sebuah rongga kelegaan tercipta di jiwaku setelah aku  melakukan puasa sosmed. Aku merasa lebih baik saat tidak lagi membandingkan diriku dengan orang lain. 

Alih-alih memegang gawai seharian, aku melangkahkan kaki ke luar kamar menuju dapur kemudian memasak. Dilanjutkan dengan membaca buku, menulis puisi dan melakukan aktifitas self-love. 

Puasa sosmed awalnya memang tidak menyenangkan, namun jika kamu mulai bisa menaruh gawaimu lalu kembali ke dunia nyata dan berinteraksi, banyak hal yang bisa kamu lakukan. Dimulai dengan menulis perasaanmu di buku tulis mungkin?


Senin, 17 Juni 2019

Komoditi Bernama Kesedihan Perempuan

Tulisan ini kupersembahkan untuk diriku sendiri dan teman-teman wanita di mana pun berada.

Btw aku habis liat postingan di instagram Mojokdotco. Kalian bisa liat postingannya di sini   https://www.instagram.com/p/Byw6pReAkjs/?igshid=17qxp46lf60nu

Sudah dilihat? Aku mager nyalin kalimatnya, haha.

Tapi kenapa seneng banget menjadikan perempuan sebagai objek konten cinta yang menye-menye? Dan mengapa konten-konten instagram banyak bernada serupa? Dan begitu banyak like dan komentar yang menunjukkan bahwa konten seperti itu sangat diminati.

Karena kita Perempuan sering sedih dengan hal yang salah.

Konten instagram seperti Mojokdotco tadi dapat amat banyak ditemui di akun-akun lainnya. Sorry to say, begitu seksis dengan mengobyekkan perempuan sebagai always selaluuuuu meluluuu korban perasaan dalam pacaran.

Dengan sadar aku memahami kalau postingan itu hanya sekadar candaan, tapi mengapa objeknya harus perempuan? Dan seolah perempuan selalu korban dalam per-pacaranan. Tidak sama sekali, Sayangku. Ada juga lelaki yang ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya, ditinggal nikah atau diselingkuhin.  Ini merupakan persoalan umat manusia yang notabene lelaki dan ada perempuan.
Tapi bukan itu poinnya di sini.

Kamu ndak tau betapa kuatnya kamu, Perempuanku. Kamu sebenarnya hanya senang tenggelam dalam kesedihan. Kesedihan yang salah dan dibuat-buat.

Mengapa kamu mesti sedih dengan lelakimu yang telat membalas pesan? Pertanyaannya adalah, apakah pacarmu seorang pengangguran? Dan jika ya? Apakah fungsi ia bernafas di bumi guna mengabarimu seorang?

Atau ketika dia berubah, tidak lagi sama di awal masa PDKT. Dia semakin kerap lama membalas pesan, komunikasi tak lagi intens dan tidak lagi sehangat dulu. Tidak hanya pasanganmu yang berubah, kita hidup dinamis yang tidak akan sama dari hari ke hari. Meski dengan perlakuan yang sama. Sapaan "Hai" atau bahasa "Aku sayang kamu" dan "Selamat Pagi" bisa saja tidak semendebarkan ketika awal pendekatan dahulu.

Setiap orang memang ingin dicintai, dihargai dan diperhatikan. Itu normal.
Namun bukan berarti kita lah poros hidup pasangan kita. Dan perasaan ingin diperhatikan bisa berubah menjadi mendominasi untuk dijadikan prioritas. Kehendak dalam bentuk apa pun selalu meninggalkan jejak luka apabila tidak tersalurkan dan terpenuhi. Perasaan ingin berkuasa dengan mendominasi pasangan itu yang tidak normal.

Dan ya, sejauh mana tujuan dari hubungan diobrolkan? Percakapan seputar komitmen, Selagi masih teguh pada tujuan awal mengikat hubungan dan dia masih konsisten. Persoalan bersifat ego penting dievaluasi tapi tidak harus berlarut-larut.

Perempuan-perempuanku, kita bukan warga negara kelas dua yang selalu dianaktirikan. Jadi peliiiisss, berhenti playing victim merasa seolah-olah korban. Berhenti seolah-olah bahwa wanitalah yang selalu tersakiti.

Girls, tanpa sadar kamu telah melemahkan dirimu sendiri.

Bergantung kepada orang lain demi kebahagian kita sendiri kurang tepat, walau kepada pasangan. Kamu bisa menolong dirimu dan membuat dirimu dicintai tanpa bantuan dari pasangan. Dimulai dari menerima diri apa adanya dan sadar kamu pantas dicintai. Sehingga relasi kuasa yang merepotkan perasaanmu bisa diakhiri.

Jika kemudian kamu menemukan fakta bahwa pasanganmu memang bajingan, itu bukan salahmu. Anggap kau sedang beruntung tidak akan hidup bersama orang yang salah.

Hentikan tangismu, agar kemudian budaya patriarkal di negeri ini tidak menjadikan kesedihanmu sebagai komoditi. Memang asik lucu-lucuan. Tapi tidak lagi menyenangkan jika media hari ini mengekalkan pemikiran bahwa perempuan adalah warga kelas dua di bawah laki-laki.

Perempuanku, bangun dan melawan! Karena kita adalah rahim peradaban.

Sabtu, 11 Mei 2019

......

Aku telah memaafkanmu, untuk jarak, untuk waktu.

Tulisan ini, entah bakal membuatku tertawa atau sedih suatu hari nanti. malam ini, aku hanya ingin menulis, tentang rasa sepiku yang belum dibayar lunas. Begitu menyebalkan. Bagaimana tidak? toh aku manusia bukan bungkus kacang, jadi ketika situasi tidak bisa aku kendalikan, aku panik dan mencari pelarian untuk menjatuhkan kesalahan. Ketika itu aku belum berani mengakui bahwa hanya aku yang khawatir berlebihan.

Sedari awal ketika kita hanya sebatas kenalan aku sudah menjelaskan kepadamu. bahwasanya aku berubah menyebalkam ketika menaruh perasan kepada seseorang. Ini menimpamu sekarang.
lihat saat aku mengganggu jadwalmu yang bukan milikku, aku cemburu pada hal itu, pada waktu-waktu di mana seharusnya situasi kita seperti dahulu.

Sempat aku menyalahkan apa yang kamu yakini. Tapi aku sesegera mungkin harus sadar. bahwa aku tidak boleh egois. bahwa kau punya otoritas penuh akan tubuh dan pikiranmu.

Maaf ya, aku takut kau terluka, aku khawatir. dan terlebih aku merinduimu, itu yang paling mendominasi. Ada malam-malam di mana aku menangis sendirian, tempat di mana pertama kali kau menyatakan suka, pertama kali kau tergelak saat kukatakan aku cemburu. Karena aku rindu, rindu yang tidak bisa aku utarakan langsung di balon pesan instan, itu menyesakkan, sementara ketika disuarakan aku terjegal situasimu yang sedang tidak nyaman.

Setelah itu semua, di mana pun kau bersuaka. tolong berkomunikasi! you damn asshole! walau sekadar teks "Hallo, aku masih bernafas dengan dua lubang hidung" atau kau bisa mengatakan hal-hal manis yang mungkin bisa menyenangkan hatiku (Tapi ndak perlu, entah kenapa kita tidak pernah cocok dengan bahasa romantis-romantisan).

Lekaslah pulang.
Tolong pandai-pandai mencari kesempatan untuk berkabar, egomu yang tinggi itu tolong disingkirkan.
Keadaan akan kembali seperti semula, yakini saja.

Aku membencimu dengan segenap tarikan napasku.

Sabtu, 27 April 2019

Alter Ego

Kekasih
Ini adalah gerombolan aksara yang pertama kali kutulis tentangmu.
Manis.Sebab banyak gula dan taburan wijen.

Terima kasih telah mencintaiku, dan menggelar peluk yang menawarkan nyaman.

Sedari dulu, aku selalu mengagumi laki-laki sabar, dan sekarang aku memiliki satu.

Aku memenuhi janjiku kepadamu.
Tapi kau telah ingkar pada ucapanmu sebenarnya, kau menghapus bahasa bahwa kau takut membuat janji karena kemungkinan bakal kau ingkari.
Dan untuk pengingkaran itu aku bahagia.

Tepat saat kau memintaku untuk menunggumu, aku menuntut syarat agar kau sudi bertahan dengan segala polahku.
Kuanggap itu adalah kesediaanmu yang akan dan terus kau lakukan. Dan berfungsi ketika sikapku amat membingungkan, biasalah urusan datang bulan.

Permintaanku, kurangilah bersikap menyebalkan, terlebih ketika hormonku sedang tidak seimbang.
Kikislah sikap seolah-olah dan menguji emosiku. Kita sekiranya telah khatam bahwa aku selalu tidak akur dengan bahasa "sabar"

Untuk toleransi, kepercayaan, sikap bahwa kau menyayangiku aku banyak bersyukur atasnya.
Sayangku, pun aku mengusahakannya untukmu.

Aku berlatih menjadi dapur, menjadi ruang tamu, kamar tidur, buku-buku, dan ranjangmu. Tempat di mana kau nyaman di dekatnya. Aku berlatih menjadi rumah.

Panjang umur,
Semoga Tuhan mempermudah segala urusan.

Rabu, 24 April 2019

Mengapa Menolak Tambang di Kampar Kiri Hulu?


Sebagian mahasiswa Riau sedang masif menggodok isu pertambangan batu bara yang bakal berdiri di Kabupaten Kampar, sebagian lainnya pun masif mengusahakan mematangkan diri menjadi Individual Corporate Warrior.

Segala tindakan seyogyanya bakal dimulai dari pertanyaan "mengapa"

Banyak alasan mengemuka yang saya lihat ketika lingkaran publik pertama kali dibuka. Entah itu karena tanggung jawab intelektual, memperjuangkan 'sesuatu', atau panggilan moral.

Dari alasan individual semacam itu. Dapat diurai benang kusut yang lebih menyentuh banyak pihak.

Pertanggungjawaban.

Bukan skeptis dan euforia pergerakan di atas alasan ini, tak cuma mahasiswa kaum intelektual, ibu saya dan ibu kamu juga sepakat bahwa telah jamak sikap tidak bertanggungjawab yang telah dilakukan perusahaan dan pemerintah kita. Kita bisa cek data, berapa lubang galian tambang yang tidak direklamasi, berapa manusia meregang nyawa karenanya? Dan statement lepas tangan dari pihak yang seharusnya membenahi apa yang telah dirusak.

Dirusak? Tentu saja! Kanagarian Pangkalan Kapas dan Rantau Kampar Kiri merupakan hulu Daerah Aliran Sungai Subayang,  dan DAS Bio yang melintasi beberapa desa yang mana sungai adalah bagian dari keseharian masyarakat tempatan.

Bagi teman-teman yang pernah menjenguk wilayah Kampar Kiri pasti sepakat dengan keindahan alam dan jernih airnya. Tidak jarang kegiatan luar ruangan mahasiswa seperti outbond dan berkemah dilaksanakan. Saat berendam di air dengan ketinggian se-dada orang dewasa, kita bisa dengan jelas melihat kaki kita berpijak pada bebatuan sungai.

Penambangan dengan melubangi bumi menyebabkan erosi, pendangkalan sungai dan perusakan kualitas air dengan senyawa yang terdapat pada batu bara. Dan maaf saja, tidak akan lagi kita temui air jernih saat berkemah di pinggiran sungai.

Dari aspek sosial-budaya sekitarnya kita semua telah khatam memahami ini rasanya. Ada efek domino menyentuh kita semua apabila tambang milik PT Buana Tambang Jaya ini merangsek masuk ke ruang hidup seluas 3000 H.

Perizinan diberikan pemerintah guna melanggengkan beberapa PLTU di Riau beroperasi. Guna pemenuhan kebutuhan listrik kita-kita juga katanya. (industri adalah bagian dari kita juga)
Industri tidak mandiri yang memiliki kantung tebal memerlukan listrik untuk operasional mereka, untuk pasar. Yaaa~ untuk kita-kita juga.
Segala partikel difitnah. Dengan bahasa "Demi kepentingan bersama"

Bicara PLTU lebih ngeri lagi, mudharat yang dilahirkan bakal menjamah kita semua, saya sedang tidak memfitnah kamu. Hanya saja, selagi tubuh masih menghidu udara di Pekanbaru dan wilayah-wilayah sekitar, partikel debu keluaran pembakaran batu bara yang dihasilkan PLTU meringsek masuk ke paru-paru, menyebabkan kanker paru-paru.

Lantas, jika tujuannya pemenuhan energi. Mengapa tidak menggunakan cara yang lebih ramah lingkungan dan ramah manusia?
Pembangkit listrik tenaga angin? Tenaga matahari?

Sebab uang pelumas industri ini bukan seperak dua perak!

Dan bukan hanya pada Kabupaten Kampar saja, Pertambangan serupa bakal menjamah Kabupaten lain di Provinsi Riau, belum lagi isu geothermal yang menurut kabar saat diskusi dengan Jatam (Jaringan Advokasi Tambang) regional Sumatera Barat juga bakal permisi masuk ke bumi lancang kuning.

Perihal pertanggungjawaban yang sudah barang tentu menjadi amunisi pihak berkepentingan, mari kita menjenguk luka yang pernah terjadi. Berapa kali dipecundangi bahasa "Akan" "Bakal" dan "Kami pasti" bertanggungjawab dan mengganti kerugian?

Saya amat menghindari perilaku menuturi.
Bisa jadi, kamu telah lebih dahulu khatam perihal narasi pertambangan dan perusakan lingkungan. Sebagai manusia saya tak henti-henti mengingatkan.

Isu ini tidak sedekat pertanggungjawaban dan ganti rugi.
Sebab mencegah lebih baik daripada mengobati.

Tabik.

Minggu, 24 Maret 2019

Ayo Putus!

Putus saja

Kepada nona. Mari kita putus saja. Biaya mencintaimu begitu mahal, sementara ongkosku tak cukup.

Aku hanya buruh korporat, gajiku hanya cukup membiayai pesta adat.
Ke mana akan dijemput uang untuk lamaran,perhiasan dan isi kamar?
Belum lagi mengongkosi gengsi di hadapan tetangga.

Tetamu harus dijamu, memanggil penghulu juga tak cukup dengan senyum dan terima kasih, kudu ada angka-angka. Kau pikir sepeda motornya tak butuh bensin? Ijab kabul di KUA orangtuamu tidak setuju. Yang ramai keluarga lah, bakal panas lah, sesak lah, ini lah, itu lah.

Jadi mari kita putus saja.

Senyummu begitu mewah, molek dan elegan. Sejenis kebutuhan tersier.
Sementara aku, oleh kebutuhan primer saja aku megap-megap.

Bilang pada orangtuamu, bukannya aku tidak berusaha, bukan pula karena kurang cintaku padamu. Tidak kurang dari bahasa 'seluruhnya' perasaan yang kumiliki ini kusuguhkan hanya untukmu.

Sekali lagi biaya legitimasi cinta di negeri ini begitu mahal.

Jadi mari kita putus saja.

Pekanbaru Maret,19

Rabu, 20 Maret 2019

Menstruasi

Menstruasi, agenda rutin setiap bulan perempuan yang menyebalkan dan merepotkan. Bagaimana tidak? Selain karena kondisi area V yang selalu becek, kondisi ini juga dibarengi hadirnya rasa sakit yang karena pada bagian rahim. Serta nyeri pada paha, bokong, punggung dan persendian. Ketika datang bulan, wanita menjadi manula seketika.

Rasa sakit yang amat 'bajingan' selalu dirasakan di hari pertama  hingga hari kedua datang bulan. Rasa sakit itu pula yang menyebabkan seisi dunia tampak begitu menyebalkan.

Setiap wanita punya penanganan berbeda mengatasi rasa sakitnya. Ada yang tidur, baca buku, leyeh-leyeh dll. Dan aku lebih menyukai tidur.

Sebelum memasuki fase tidur, biasanya aku melakukan kegiatan yang sama dari bulan ke bulan. Entah kenapa ndak bisa langsung tidur gitu lho, harus mringis-mringis dulu, tekuk lutut ke dada, tengkurap, telentang. Pada setiap posisi tidak ada yang berbeda, tidak meredakan rasa sakit.

Saat-saat itulah hadir seorang teman yang akan memberi perhatian.

"Kamu kenapa?"
"Datang Bulan ya? Coba dikompres pakai air hangat?"
"Coba minum pereda nyeri"

Demi sendal di masjid yang sering hilang! Aku ndak butuh diperhatikan dalam bentuk kata-kata. Kumohon! Istirahatlah kata-kata di seluruh semesta saat aku datang bulan!!1!!@!1
Mbok ya kalau mau perhatian itu sekalian yang total. Dibikinkan air hangatnya, dibeliin pereda nyeri atau kalau mau beliin rumah juga alhamdulillah.

Perempuanku, jika kamu seorang pekerja, kamu bisa gunakan hak cuti haid sebagaimana yang telah diatur Pasal 81 ayat (1) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang menyebutkan bahwa pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid.

PMS

PMS (Pre Menstruation Syndrom) adalah hari-hari paling--amat sangat--bikin repot. Serangkaian gejala yang terdiri dari; mood naik-turun,mual dibarengi muntah, sakit kepala, mudah tersinggung, marah, marah dan marah. ( disebabkan produksi hormon yang tidak seimbang). Pendeknya,mudah emosian. Para lelaki yang betinanya seperti ini sebaiknya kalian cosplay jadi es teh saja.

Maka untuk kalian yang memiliki teman yang sedang PMS, tanya apa inginnya, ajak ngobrol untuk memperbaiki suasana hatinya. Apabila kamu tidak bisa menangani, biarkan saja dia sendiri dinyamukin di pojokan.

TIPS

Ini untuk saudaraku di seluruh belahan dunia manapun yang merasa nyeri tak tertahankan ketika datang bulan. Berikut adalah yang bisa kamu lakukan dalam menangani dirimu sendiri ketika menstruasi. You have to help ur self girls!

Tidur

Pastikan tempat untukmu tidur sudah nyaman untukmu. Ambil posisi ternyaman, tenangkan pikiran ambil napas perlahan dan hembuskan perlahan nikmati rasa sakit yang menjalar dengan tetap tenang.

Konsumsi Jamu

Langkah antisipatif sebelum hari-H, kamu bisa rutin mengonsumsi jamu. Bisa beras kencur, kunyit asam dan yang paling bekerja; sambiloto. Hanya jika kamu tahan dengan rasa pahitnya.

Perawatan Diri

Ini khusus ketika sedang PMS. manakala kamu sedang merasa depresi dan berpikir tidak ada satu pun elemen bumi yang berpihak padamu, maka berpihaklah pada dirimu, manjakan diri sendiri dengan; mandi air hangat, maskeran, luluran, menggunting kuku. Semuanya hal yang bisa kamu lakukan tanpa perlu ke salon kecantikan dan dilakukan sendiri.

Sadari Bahwa Kamu Sedang PMS

Masalah terbesar PMS ialah moodswing, depresi dan mudah marah. Siapa pun mengerti ketika wanita PMS maka akan cenderung mudah emosi. Namun girls, dunia bukan milikmu sendiri, untuk itu sangat penting buatmu menyadari ketika sekelilingmu menjadi tidak menyenangkan bukan karena memang demikian, mungkin karena cara pandangmu? Serta kenali juga bahwa kamu sedang PMS. Sehingga sikap menyebalkan ingin semaunya sendiri bisa terhindarkan. Gadisku, kita mengerti PMSmu, tapi dunia bukan hanya dihuni kamu dan hanya berputar di sekelilingmu.

Kenali yang Kamu Inginkan

Apapun tips di atas, hanya kamu yang tau persis apa yang kamu inginkan ketika dunia mulai terasa tidak nyaman. Just do it! Tanpa harus menyulitkan orang lain. Kamu kuat! Amat kuat untuk menguatkan orang lain dan lelaki yang kamu cintai.
Diskusikan kepada pasangan agenda bulanan ini. Agar ketika waktu itu tiba ia tau menempatkan diri dan bersikap terhadapmu.

Dan kepada para lelaki, maafkan kami ketika sedang PMS atau Menstruasi. Bersabarlah, bersabarlah, bersabarlah~

Minggu, 17 Maret 2019

Kamu marah kepada saya karena sikap saya atau terbawa perasaan tidak sukamu kepada saya?

Inspired by Cak Nun, Gelandang di Kampung Sendiri (Dalam esai 'Lingsem').

Rabu, 06 Maret 2019

Tolong Bantu Aminkan

Aku ingin sebelum aku mati berkalang tanah, berteman cacing, dikoyak sepi.
Detik-detik waktuku diisi dengan mencintai ciptaan-Nya. Berbagi cinta sebanyak yang aku bisa, menebarkan bahagia dan kasih-Nya yang dititipkan padaku.

Aku merasa Tuhan amat mencintaiku. Untuk mensyukuri nikmat itu, semoga aku pun dapat membagikan sedikit dari banyak rezeki dari Tuhan ke sesama ciptaan-Nya.

Amin.

Minggu, 03 Maret 2019

Tuhan adalah dzat yang penuh cinta. Dan islam adalah bentuk dari kecintaanNya.

Aku heran dan patah hati. Melihat saudaraku hari ini, dengan dalih agama menyakiti saudara lainnya untuk kursi dan meja, untuk masa yang sementara, untuk perut yang sejengkal, untuk junjungan, untuk yang bukan siapa-siapa lisan menjadi pedang tajam, mengiris hati mengeluarkan darah, membanjiri akal, menenggelamkan kasih sayang.

Kamis, 21 Februari 2019

Prabangsa

Kulihat Prabangsa
Di berita, di kronologi sosial media, diskusi di mana saja

Prabangsa di suara-suara
Di mana-mana

Angkat tangan panjatkan doa
Prabangsa, Udin dan Kasshogi agar selalu ada bersuara

Menundukkan kepala kepada yang Esa agar peradaban melahirkan Prabangsa selanjutnya

Kiamat!
Mampus lah kita!
Mati nurani manusia!
Jika Prabangsa tak lagi ada
Semangatnya mati ditikam konglomerasi media
Deadline demi deadline
Serta kepedulian yang telah mati rasa

*KembaliWaras, 2019