Sabtu, 14 Oktober 2017
Pohon Jambu
Rabu, 04 Oktober 2017
Tanah Darah
Tatapan lelah
Peluh mengalir tak mau menyerah
Legam tubuh
Retak kaki
Patah kuku
Masih belum menyerah
Menjadi pekerja di tanah darah
Jadi budak di istana raja
Jadi babu dalam nestapa
Tanah darah
Penuh, luruh
Darah merah
Mengembuskan napas dalam keadaan hina
Miskin
Melarat
Pejabat keparat
Kau mati miskin
Dalam definisi orang-orang kota
Padahal kau kaya raya
Dan kau mati miskin
Di tanah darah
Bekasi, 30 September 2017
Rabu, 12 Juli 2017
Diary KKN 2017 "KKN nggak se-lebay itu"
Sebelum berangkat aku diberi wejangan oleh ibu, teman, sahabat sampai abang dari kampung seberang turut latah sok perhatian, sekali tidak ya tidak, Bang!
"Hati-hati makan di sana, banyak racun" kata temanku dengan pandangan sedih dan sayu, seolah saat pulang KKN aku hanya tinggal nama.
"Jangan pacaran dengan anak kepala desa" sebut si abang via sebuah pesan singkat.
Sementara ibuku? Tak banyak kata ia berbicara melalui mata untuk hati-hati menjaga diri.
Beruntung hujan tidak terlalu lama, jika tidak mungkin kami akan terkena demam berjamaah.
Aku dan teman satu posko KKN tiba pukul tujuh malam. Turun dari mobil aku melangkahkan kakiku dengan anggun memasuki posko. Baru dua langkah aku terpeleset mencium tanah. Sial, aku gagal keren!
Salah satu dari (agak) banyak program kami ialah "magrib mengaji" dan pemberdayaan pemuda untuk menghidupkan kegiatan berbasis masjid.
Kami diberikan hasil bumi seperti: pisang, kacang panjang, kelapa muda, dan ada perbaikan gizi kala wirid Yassin mingguan. Sesungguhnya KKN tidak benar-benar menderita jika membesarkan porsi bersyukur dalam sudut pandang kita.
Bagi yang merasa KKN bagai di neraka, mungkin situ teman seangkatan iblis dan kawan-kawannya.
Beda cerita kalo kamu PHP-in anak kepala desa.
Situnya saja yang lebay.
Kamis, 01 Juni 2017
Minyak Hitam Pekat di balik Nikmatnya Pisang Coklat
Kilauan sinar lampu kendaraan dengan rentetan barisan di kemacetan yang ada di salah satu ruas jalan soebrantas pekanbaru. Rentetan pedagang jajanan malam mulai ramai di tepian jalan saat kemacetan itu. Ragam aneka makanan bisa jadi pilihan untuk memanjakan lidah, mulai dari gorengan, minuman dan banyak lagi. Tanda tanya terkadang muncul apakah semua itu sehat bagi kita?
Awalnya kami hanya sekedar nongkrong di sebuah tongkrongan sederhana untuk saling tukar pikiran tentang deadline yang diberikan oleh para dosen. Lalu kami mendengar pembicaraan dua orang yang duduk disamping kami tentang penggunaan minyak goreng oleh penjual gorengan yang sebenarnya sudah tidak layak pakai.
Dalam hati kecil kami juga membenarkan apa yang dibicarakan dua orang tersebut. Masih banyak para pedagang gorengan yang tidak memikirkan kesehatan para konsumen dagangannya, mereka seakan tidak peduli dan hanya mementingkan keuntungan yang mereka dapatkan dengan memperkecil modal yang dikeluarkan.
Hasil investigasi dan pantauan langsung yang dilakukan oleh CYBER bersama para timnya, ternyata masih banyak para pedagang jajanan malam (jenis gorengan) yang menggunakan minyak gorengnya hingga berulang kali sampai warnanya hitam. Namun hal itu biasa saja bagi si penjual jajanan malam tersebut.
Hal ini yang membuat kami akhirnya mencoba untuk menyelidiki dan observasi secara langsung dilapangan. Keesokan harinya kami menyusuri Jalan Soebrantas dan melihat banyak pedagang jajanan malam yang berjenis gorengan, akhirnya kami berhenti pada salah satu gerobak penjual pisang goreng keju yang berada di seberang Family Box tepat di depan Planet Swalayan. Kami memesan satu porsi pisang keju tersebut dan melihat minyak goreng yang digunakan. Ketika itu keadaan sedang ramai pembelinya sehingga kami harus menunggu terlebih dahulu, saat menunggu itu kami mencoba bertanya-tanya kepada mereka (penjual pisang keju).
Kepada kami, Didi (yang tugasnya menggoreng) menceritakan bahwa mereka hanya karyawan dan bukan pemilik usaha pisang goreng keju itu. Mereka bekerja paruh waktu pada pemilik usaha yang memiliki lima cabang gerobak pisang goreng keju tersebut. Keempat gerobak lainnya beroperasi di beberapa titik keramaian Kota Pekanbaru, seperti di Marpoyan, Harapan Raya, Jalan Durian, serta Pasar Sail.
Dalam satu gerobak terdapat dua karyawan yang memiliki tugas masing-masing, seperti Didi tugasnya adalah mengupas pisang lalu menggorengnya, selanjutnya Selamet (rekan Didi) yang akan meracik cokelat dan keju yang di pesan oleh pelanggan.
Usaha pisang goreng keju tersebut sudah berjalan cukup lama dan masih diminati oleh orang-orang. Menurut pengakuan mereka pendapatan penjualan dalam satu malam rata-rata 700 ribu untuk satu gerobak, bahkan bila sedang ramai setiap gerobak bisa mencapai 1,5 juta dalam semalam. Hal ini sungguh sangat tidak sejalan dengan kondisi minyak goreng yang mereka gunakan. Minyak tersebut sudah dipakai 2 atau 3 hari oleh mereka, sehingga tampak cekelat kehitam-hitaman.
Ketika kami singgung masalah minyak goreng tersebut mereka membenarkan bahwa mereka menggunakannya selama berhari-hari. Mereka tidak menggantinya, hanya menambahkannya saja. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak dapat berbuat apa-apa mengenai keadaan minyak goreng, pemilik usaha menjatahkan 5 liter untuk 2 hari penjualan. Itulah yang membuat mereka mau tidak mau harus mencampur minyak goreng yang baru dengan yang sudah berhari-hari tersebut agar dapat bertahan selama dua hari.
“Mau gimana lagi bang, udah dari si bos kayak gitu, kita Cuma bisa ikut aja. Kalau kita jemput ke rumah bos atau ke gerobak lain jauh bang, itu pun gak ada uang bensinnya”ucap Didi sambil membolak-balik pisang yang ada di dalam penggorengan.
Minyak yang digunakan merupakan minyak curah, dan mereka tidak diperbolehkan untuk membeli minyak goreng di tempat lain karena akan menambah pengeluaran/ modal dan mengurangi keuntungan. Mereka harus menjemput ke rumah pemilik atau ke gerobak cabang yang lain apabila minyak goreng di gerobak mereka akan habis, seperti yang dikatakan Didi. Hal ini yang membuat keadaan minyak goreng mereka tampak seperti itu.
Berdasarkan hasil kajian dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM RI), serta kajian dari pakar kesehatan yang kami dapat secara Online, penggunaan minyak jelantah sebagai minyak goreng akan memberikan dampak pada gangguan kesehatan. Gangguan kesehatan yang ditimbulkan tersebut diantaranya, penggunaan minyak goreng berulang kali (lebih dari dua kali) pada suhu tinggi (160 derajat C sampai dengan 180 derajat C) akan mengakibatkan hidrolis lemak menjadi asam lemak bebas yang mudah teroksidasi, sehingga minyak menjadi tengik dan membentuk asam lemak trans yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan yang berhubungan dengan metabolisme kolesterol yang berujung pada penyakit tekanan darah tinggi dan jantung serta akan membentuk akrolein yaitu suatu senyawa yang menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan dan menimbulkan batuk.
Selain itu, pengonsumsi minyak ini juga beresiko terkena penyumbatan pembuluh darah dan jantung koroner. Dan yang tak kalah berbahaya, minyak ini juga bersifat karsinogen sehingga bisa menyebabkan kanker.
Kami juga melakukan konsultasi dengan seorang dokter spesialis penyakit dalam mengenai batas pengulangan pada penggunaan minyak goreng. “Sebenarnya lebih baik itu setelah di gunakan ya dibuang, karena kandungan-kandungan yang ada pada minyak tersebut sudah habis setelah kita menggunakannya pertama kali, kalaupun masih digunakan ya cuma untuk yang kedua kalinya saja” terangnya kepada kami.
Hal ini menunjukkan bahwa masih ada oknum-oknum pengusaha nakal yang ingin meraup keuntungan berlipat dengan cara menekan setiap pengeluaran tanpa memikirkan efek jangka panjang yang didapatkan oleh orang yang mengkonsumsi dagangan yang dijualnya. Kapan semua ini akan berakhir ?
Minggu, 30 April 2017
Dik
Dik, andai engkau anak petani, saat ini kau harusnya sedang menghitung uang hasil penjualan ubi tadi pagi.
Jika kau anak politisi, mungkin kau sedang berfikir tentang cara mengaji undang-undang yang menguntungkan kaum pemilik uang.
Mungkin, jika kau anak seorang polisi kau sudah dalam mimpi, tidur lebih awal dalam rangka pendisiplinan diri.
Tapi kau bukan anak politisi, polisi atau petani.
Aku lihat kau sedang duduk di sudut toko menghisap lem hingga teler.
Siapa ayah dan ibumu?
Jalanan itu kejam, Dik. Pulanglah.
Mandi kemudian basuh tubuhmu dengan sejuknya air sumur.
Dik, apa rasanya nikmat? Hingga kau rela menadahkan tangan berdusta bahwa kau kelaparan?
Apa lem itu bisa mengantarkan kau ke surga? Kalau ya, sini kakak hendak coba.
Apa sebegitu sulitnya mendapatkan bahagia? Kau suka? Lem cap kambing itu.
Tatapan dari mereka menakutkan bukan? Seolah kalian makhluk berkaki empat yang sering mereka umpat, biar saja mereka adalah manusia yang sedang berakting menjadi hakim, jangan tersinggung.
Omong-omong jika kalian anak petani kalian punya lahan?
Apa sepetak lahan kering berdebu bisa menumbuhkan barang sebatang pohon singkong?
Hmmm, tak apalah, jangan sedih sebab tak bisa bertani, kalian kan bisa pergi menuju mall menghibur diri.
Dik, sini kakak bisikkan, mall yang sekarang berdiri gagah di ujung jalan itu, dulunya tanah milik kalian.
Selasa, 25 April 2017
Semoga
"Semoga Indonesia lebih baik lagi"
"Semoga UIN Suska Riau bla bla"
Apa yang kita gantungkan pada kata semoga? Siapa yang mau diharapkan setelah "semoga" dibunyikan?
Keajaiban Doa memang luar biasa, yang miskin jadi kaya, yang kaya jadi miskin. Karena didoakan si miskin.
Namun, bukankah Tuhan tidak akan merubah suatu kaum jika kaum tersebut tidak merubahnya nasibnya sendiri? Kalau dipikir apakah Tuhan nggak bete, mendengar hamba-Nya mengeluh dari Senin ke Selasa, Selasa ke Sabtu. Hari minggu libur mengeluh. Piknik lebih di prioritaskan.
Lalu kata Semoga kembali ditanyakan, apa setelah "semoga" dilafadzkan hingga khatam akan merubah keadaan?
Siapa yang hendak kita andalkan?
Kenapa 8 tulang yang diberikan Tuhan tidak digerakkan?
Agar harapan lekas menjadi kenyataan.
Aamiin.
Jumat, 14 April 2017
Cermin
Aku melihat cermin, atau cermin yang melihatku?
Aku melihat cermin sembari berkata aku cantik.
Kemudian kawanku berkata bahwa aku hanya membual, lanjutnya, aku tidak secantik itu.
Cerminkah yang berbohong?
Atau temanku?
Atau wajahku?
Mungkin mataku?
Mana realitas yang sesungguhnya?
Aku percaya pada mataku, temanku percaya pada matanya dan cermin. Dia hanya percaya pada cara pandang mata yang melihatnya.
Ohhh begitu?
Jadi aku ini, cantik?
