Kamis, 11 Oktober 2018

Kekhawatiran Seorang Mbak


Ya! Aku seorang mbak, anak pertama. Dari tiga adik yang lagi puber-pubernya. Maksudku, mereka masih penasaran dan takjub pada banyak hal baru.

Adik yang ke-dua misalnya. Sedang gemar-gemarnya bikin video disertai musik EDM atau musik yang tengah tinggi mengudara. Dan permasalahan serta kegelisahanku terletak pada si adik nomor tiga. Wanita dan baru masuk Esempe.

Saat kelas enam, aku mendapati pesan di kotak masuk media sosial Facebook miliknya. Sesaat sesudah membaca pesan tersebut aku terkejut, terdiam dan tiba-tiba mules.
Pesan-pesan dengan seorang anak laki-laki yang entah sudah "potong anu" atau belum itu bikin aku ngikik geli sekaligus was-was. Pasalnya, si anak laki-laki membahasakan dirinya dengan panggilan 'abang'. Aku terkejut, geli dan pingin nyolok lubang hidungnya.

Usut punya usut, ternyata si 'Abang' ini duduk di kelas lima, satu tingkat di bawah adikku. Jan jangkrik tenan! Si 'Abang' ini bernama Dian, kuselidiki akunnya. Kulihat poto profilnya. Seorang anak kurus berkulit cokelat yang agaknya swafoto tersebut diambil menggunakan Hape Merk Mito. Burem dan berembun.

Si Dian ini tak hanya memanggil dirinya dengan 'Abang' di room chat bersama adikku. Ia juga memanggil adikku "Sayang"

Ondeh, karambia!

Saat itu, sebagai mbak yang mencoba bijak aku tak lantas mengambil keputusan untuk menyidang adik nomor tiga ini. Aku takut langkah yang salah akan membuat hubungan kami tak lagi kondusif. Sebagai kakak, aku ingin jadi sosok yang bisa dijadikan tempat cerita, perihal pengalaman baik atau buruk yang ia alami. Dengan begitu, aku pikir, aku bisa tau bagaimana adikku, ia percaya kepadaku dan ada keputusan solutif untuknya. Sehingga harapanku ia tidak salah langkah.

Atas dasar itu aku menyelidiki Si Jangkrik Abang tadi. Mulai dari menyambangi sekolah adikku. Hingga bertanya kepada sumber terpercaya. Adik nomor empat yang juga satu sekolah dengan adik nomor tiga.

Identitas sudah di tangan. Dan pada waktu yang aku rasa tepat aku mencoba bicara pada si Adik.

"Dik, si anu itu udah punya pacar, ya?" Tanyaku membuka obrolan.

"Iya, Kak, semenjak punya pacar nilainya turun" jawabnya

"Sering curhat masalah pacarnya?" Tanyaku lagi.

"Iya,"

Ia melanjutkan, "Satu geng adik rata-rata punya pacar semua"

Nah lo! Dapat poinnya. Menurut analisaku, ia dan Dian dekat karena teman satu gengnya memiliki pacar. Dan sebagai teman yang kalau keluar main jajan es bareng tentulah di saat perjalanan menuju abang-abang es mereka membicarakan pacar mereka. Dan adikku harus memiliki pengalaman yang sama agar genre obrolan tetap sewarna.
Adikku bukan tipikal orang yang peduli, namun sebagai anak perempuan yang hendak remaja yang kerap takjub dan penasaran serta tak mau ketinggalan arus 'nggibahin pacar' ia pun menjajal dunia perpacaran.

Dan yang baru-baru ini terjadi. Ia berbalas pesan denganku via pesan instan hingga jam 11 malam. Tidak biasanya, sebab, jam 9 saja dia sudah mengambil kuda-kuda untuk tidur.

Aku curiga, dia sedang chat dengan teman dekat. Bisa laki-laki atau perempuan. Dunia memang tidak berputar di sekelilingku. Aku sadar hal itu. Hal yang aku lakukan saat tidur larut malam saat seusianya bisa saja berbeda dengan alasan dia saat ini. Namun tak bisa aku hindari, rasa takut tetap saja menyergap.

Rasa percaya amat penting, dulu, orang tuaku mengambil sikap keras ketika mengetahui aku dekat dengan laki-laki. Bahkan si Papa mengatakan telah menyewa temanku untuk mengawasi tindak tandukku di sekolah. Dulu aku percaya, sekarang aku tau itu hanya bualan semata menakut-nakutiku. Dan pada saat itu, alih-alih aku menghentikan ekplorasi terhadap dunia percinta-monyetan. Aku malah curiga terhadap setiap teman dekatku, serta membuat manuver yang lebih canggih agar tidak ketahuan. Sebenarnya jika benar menyewa temanku, alangkah bijaknya jika uang itu dialokasikan untuk penambahan uang belanja untukku. Mungkin saja, aku tidak akan fokus di dunia percinta-monyetan, mungkin saja aku akan fokus hmmm, foya-foya.

Yang aku saat ini berusaha menjadi kakak selo, agar dipercaya, supaya ia tetap bercerita dan aku tetap mengenalnya.

Aku takut ia berubah. Meski aku tau adikku pasti berubah. Aku takut ia menjadi asing.
Aku percaya padanya. Aku percaya ia mampu menjaga dirinya. Aku hanya tidak percaya pada dunia yang beredar di sekelilingnya.

Lur, butuh saran. Aku kudu piye?

Senin, 27 Agustus 2018

Tawa Lekat di Besi Berkarat

Bulan bundar
Bianglala berputar
Dopamin menguar
Malam itu sebenarnya tubuh kami telah cukup lelah. Otak kami sudah memvisualkan kasur untuk segera menghenyakkan badan melemaskan otot.
Namun cerita malam itu berubah, Ayun, temanku mengajakku ke pasar malam yang berlokasi tak jauh dari kontrakan kami.
Padahal kami sama-sama lelah. Ia pun sudah seharian beraktivitas di luar ruangan.
Sementara aku pun lelah. Lelah nggak ngapa-ngapain. Hahahhaa.
Setiba kami di pasar malam milik kelompok Lotare Bogor Jaya ini, kami duduk barang sebentar di warung kecil milik pedagang. Menyesap minuman cokelat yang manisnya over sugar.
Kami memang datang terlalu cepat, wahana-wahana belum banyak yg beroperasi. Hanya komidi putar untuk bocah-bocah yang aktif bergerak kala itu.
Sambil meminum cokelat kami kami sedikit bernostalgia. Tentang jaman SD dahulu. Ayun dan aku memang berasal dari Kabupaten yang sama. Kabupaten Pelalawan.
Kami bercerita, bagaimana dulu mengunjungi pasar malam adalah kebanggaan bagi anak desa yang belum mengenal gegap gempita gadget dan teknologi. Bagaimana tidak, dulu belum ada listrik yang mengaliri desa kami, hanya ada PLTD (pembangkit Listrik Tenaga Diesel) yang nyala pukul 18.00 dan padam pukul 12.00.
Bertolak ke pasar malam, menaiki wahana-wahana ialah kebanggaan absolut. Yang seusainya, kami bisa pamer kepada teman sebaya di sekolah esok hari. Bukan sembarang pasar malam. Pasar malam yang bergengsi adalah pasar malam yang memiliki wahana rumah hantu. Dan tingkat kekerenan akan berbanding lurus saat telah mencoba wahana tersebut.
Siapa yang memasuki wahana itu niscaya esoknya akan sesumbar, mengatakan mereka tidak takut barang secuil kuku.
Yaaa.
Mereka mengompol di dalam juga siapa tau?
***
Tidak merogoh kocek terlalu dalam, wahana di sini rata-rata seharga Rp.5000. Lebih murah dari uang pulsa dan minuman cokelat kami yang dibanderol Rp.8000. Gila! Nyari kesempatan banget, pikir kami.
Kami memutuskan untuk naik kora-kora. Bermodal uang Rp.5000 per orang kami naik wahana itu. Sengaja duduk paling ujung, katanya paling ujung ialah tempat yang paling mendebarkan.
Tidak ada safety belt. Pengaman juga hanya seadanya, cenderung tidak aman menurutku. Tempat duduk berkarat. Jelas tidak sehat. Belum lagi asap mesin diesel penggerak wahana itu yang meringsek masuk ke lubang hidung. Belum naik aku sudah mual.
Wahana mulai bergerak. Ke atas dan ke bawah. Adrenalin mulai bekerja. Kami berteriak. Semakin tinggi semakin kencang teriakkan kami.
Stress kami hari itu terbuang bersama suara yang kami bunyikan.
Tidak megah, jauh dari kesan mewah, tua dan berkarat.
Namun siapa nyana, lelah kami hilang sebentar malam itu. Barulah pada  malam harinya Ayun tidak bisa menggerakkan tangan karena nyeri pada kedua lengannya.
Namun kami pulang dalam keadaan bahagia. Sisa-sisa tawa dan nostalgia kami merekat pada besi berkarat Pasar Malam Lotare Bogor Jaya.

Minggu, 08 Juli 2018

Doa

doa adalah mantera
mempertebal harapan, mengisi ulang energi.
satu sasi lagi
masih ada satu sasi

sudah lebih dari satu sasi
sejak lumbung padi tanpa padi
kekeringan membasahi mata petani
anak-anak petani
istri-istri petani

kepala keluarga merapal doa
di masjid, vihara, kelenteng dan gereja
wanita menggumamkan harapan, sembari memetik cabai mengupas bawang

masih ada satu sasi lagi

Pekanbaru, 2018


Minggu, 01 Juli 2018

Preman

Aku seorang preman
Bukan inginkku jadi preman
Tapi ibu penjual ikan asin di pasar
Ibu penjual lobak, penjual cabai.
Selalu bilang aku preman
"Dasar preman,"  "emang preman"

Maka jadilah aku preman
Padahal ibuku
Waktu aku kecil selalu berdoa
Agar aku jadi guru

Pekanbaru, 2018